Info Terbaru
Kacaunya Penggantian Kartu Multitrip Commuterline

Kacaunya Penggantian Kartu Multitrip Commuterline

Pergantian kartu multitrip commuterline  diwarnai dengan kehebohan dan riuh rendah kepanikan serta kejengkelan penumpang pada 21 Juli lalu menunjukkan, lagi-lagi, PT Kereta Api  Commuter tidak mau belajar dari kasus yang sudah-sudah. Kebijakan pada hari itu dengan menggunakan karcis senilai Rp 3.000 untuk  perjalanan ke manapun menunjukkan jalan pintas semata demi meredam dan mengantisipasi  kemarahan penumpang. Baca: Cerita Gerbong Perempuan

Perusahaan ini jelas sudah sangat tahu bahwa ada lebih 800 ribu pengguna kereta commuterline di seluruh Jabodetabek. Perusahaan ini pun mesti juga  tahu ada beragam karateristik penumpang commuterline.  Dari mereka yang mungkin hanya berpendidikan SD hingga profesor, dari para penganggur hingga pejabat pemerintahan. Beragam, yang akhirnya juga membawa konsekuensi dalam pikiran dan tindakan mereka.

Dalam kasus pergantian kemarin terlihat PT Kereta cenderung menggampangkan. Hanya mengumumkan, terutama, lewat pengeras suara dalam kereta yang paling lama mungkin dalam empat atau lima bulan terakhir dengan penutup pengumuman tersebut : terakhir adalah pada 21 Juli. Kenyataannya apa yang kita lihat? Pada tanggal itu ternyata banyak yang belum mengganti. Niat penggantian tak sesuai target.

Ada dua kesalahan fatal yang dilakukan PT Kereta dalam kasus ini. Pertama, sosialisasi yang kurang. Kedua, soal jangka waktu.

Perihal sosialisasi terasa PT Kereta terlalu menggampangkan. Hanya “bermodal” pengumuman di dalam gerbong pada jam tertentu dan kemudian secarik kertas yang ditempelkan di loket. Tidak ada gerakan sosialisasi yang masif: diumumkan secara besar-besaran di stasiun melalui billboard atau spanduk. Melihat ticketing baru yang berlogo SONY mestinya PT Kereta mendapat kompensasi yang lumayan dari perusahaan ini yang pendapatan tersebut –harusnya- bisa digunakan untuk melakukan sosialisasi  yang lebih masif.

Kedua, waktu sosialisasi bisa disebut sangat singkat. Untuk memberi peringatan dan ingatan bagi pengguna moda angkuta semacam Commuterline tak bisa dilakukan dalam waktu sebulan, dua bulan, dan hanya mengandalkan SDM PT Kereta. Sosialisasi bahkan mestinya minimal enam bulan atau setahun dan menggunakan berbagai media dan tak hanya dilakukan  PT Kereta. Mesti kerjasama dengan berbagai pihak: pemerintah daerah (Bogor, Bekasi, Tangerang, misalnya), komunitas-komunitas, dan media yang kerap menjadi rujukan para pengguna kereta. Dengan cara seperti ini sosialisasi akan berhasil.

Yang terjadi pada kasus “21 Juli” ini adalah hal yang menyiratkan perusahaan kereta ini semata mengejar target sesuai perjanjian dengan vendor:  SONY  -hal yang mestinya publik mengetahui juga:  kenapa harus ada tulisan “SONY.”  (L.R. Baskoro)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates