Info Terbaru
L.R. Baskoro: Tragedi Perimeter dan Kereta Bandara

L.R. Baskoro: Tragedi Perimeter dan Kereta Bandara

Kasus robohnya tembok terowongan (underpass) di Jalan Perimeter Selatan Bandara Soekarno-Hatta pada 5 Februari kemarin mesti menjadi perhatian Pemerintah untuk segera mengevaluasi pembangunan –dan pengamanan-  jalur kereta Bandara. Apa pun alasannya  peristiwa memilukan ini memberi pesan: ada  yang mesti diwaspadai pada pembangunan tembok dan segala berkaitan dengan lintasan kereta bandara.

Korban sudah jatuh, Putri, yang terjebak dalam mobil Brio yang tertimpa tanah longsor, tewas,  tak  terselamatkan setelah sempat dirawat di Rumah Sakit. Tembok  terowongan, setebal lebih dari setengah meter ambruk dan membuat para petugas Badan Nasional Penanggulangan Bencana perlu waktu lebih 12 jam untuk menyingkirkannya.

Muncul sejumlah pertanyaan atas peristiwa ini. Apakah memang  tembok yang dibangun dengan biaya miliaran rupiah itu tak mampu menahan derasnya hujan? Bagaimana sebenarnya konstruksi tembok  itu sehingga ketika longsor siapa pun yang lewat di bawahnya sulit untuk diselamatkan?

Peristiwa ini sejujurnya tak bisa dibiarkan dengan bersandar bahwa, misalnya,  kondisi alam yang luar biasa itulah  sehingga membuat perimeter itu tak sanggup lagi melawan alam, menahan beban.

Tidak bisa. Para konsultan yang membangun jalur kereta Bandara yang menghubungkan Manggarai-Soekarno Hatta seharusnya sudah memperhitungkan ini semua: tingkat kerawanan tanah, tingkat ancaman banjir, tingkat curah air hujan Jabodetabek, tingkat kepadatan lalu lintas yang kesemuanya menjadi acuan untuk menciptakan bentuk dan struktur pas dan tepat untuk   ini membangun segala hal berkaitan dengan jalur bandara.

Semua itu bisa diiukur, diperhitungkan  -sejauh yang melakukannya kompeten untuk hal demikian.  Perkembangan ilmu sipil, perkembangan peralatan dan teknologi,  pasti bisa mengantisipasi hal-hal berkaitan dengan ancaman banjir, bergesernya tanah, curah air, terhadap sebuah bangunan.

Karena itu jebolnya tembok terowongan di Bandara Soekarno-Hatta itu tidak bisa dianggap sepele. Bukan mustahil kelak, peristiwa sama terjadi pada bangunan lain:  fondasi, jembatan, yang mendukung infrastruktur rel bandara. Pemerintah mesti segera menyelidiki, meneliti kembali bangunan, terowongan yang dibangun untuk mendukung rel kereta api bandara ini. Pemerintah bisa membentuk  tim independen yang terdiri berrbagai ahli struktur (sipil, geologi, geografi dll) untuk menyelidiki peristiwa ini. *

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates